Kamis, 20 Januari 2011

PENELITIAN MESTINYA HASILKAN PRODUK

Meski setiap tahun Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) menggelontorkan puluhan miliar untuk membiayai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), hingga saat ini jarang sekali produk inovatif yang lahir. Banyak penelitian yang dilakukan mahasiswa hanya berakhir sebagai laporan.

Menurut Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Negeri Semarang Unnes) Masrukhi, penyebabnya tidak setiap PKM bisa menghasilkan produk. “Ada empat jenis PKM, yaitu PKM Penelitian, PKM Teknologi, PKM Kewirausahaan, dan PKM Pengabdian Masyarakat. Hanya Kewirausahaan dan Teknologi yang bisa menghasilkan produk berupa barang, sisanya hanya laporan,” ujar Masrukhi.

Selain itu, Masrukhi mengakui adanya kekeliruan mindset di kalangan mahasiswa. Sebab ada oknum mahasiswa yang mengajukan proposal hanya untuk mendapatkan uang penelitian. “Menurut saya wajar, selain mendapat poin, nilai plus keilmuan, mereka menginginkan koin, tapi tidak tepat,” ungkap Masrukhi.

Pada 2008, Unnes mengirim lebih dari 900 proposal PKM, 228 di antaranya didanai dikti. Pada 2009, proposal yang dikirim meningkat drastis mencapai 1.643, terbanyak di Indonesia, 197 di antaranya didanai Dikti. Namun, pada penyelenggaraan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2009 di Universitas Brawijaya, hanya satu penelitian
yang meraih medali emas.

Berbeda dengan Masrukhi, pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan
Universitas Diponegoro (Undip) Sukinta justru melihat kecilnya reward mempengaruhi minimnya aktivitas penelitian mahasiswa. Proposal PKM yang lolos setelah disaring dikti hanya diberi uang maksimal Rp6 juta dan Rp10 juta khusus PKM Kewirausahaan sehingga mahasiswa lebih memilih mengikuti program lain.

Pengganti skripsi
Undip saat ini sedang merumuskan kesepakatan agar aktivitas penelitian, baik PKM maupun penelitian lain, bisa menggantikan tugas akhir. Mahasiswa yang menang di Pimnas bisa lulus meski tidak membuat skripsi. Aturan itu ditargetkan bisa mulai diterapkan pada 2010.

Meski produk inovatif yang lahir dari PKM belum terlalu memuaskan, menurut Masrukhi, masyarakat perlu memberi apresiasi. Sebab meski sedikit, sejumlah mahasiswa
terbukti berhasil membuat produk inovatif. “Misalnya, di Unnes sekarang ada micor car dan torakur, tomat rasa kurma yang lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa,” kata Masrukhi.

Penghargaan juga disampaikan Sukinta sebab beberapa mahasiswanya juga berhasil merealisasikan programnya, salah satunya, pemanfaatan eceng gondok di Rawapening.

Produk inovatif juga beberapa kali dihasilkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rekayasa Iptek (Riptek) Unnes. Ketua Riptek Putik Pribadi menuturkan selama ikut serta dalam PKM organisasinya banyak menghasilkan produk teknologi, ayunan yang bisa mendeteksi tangis bayi, briket dari serbuk gergaji, pupuk jemparing, hingga kos paper
magazine.

Riptek Unnes adalah unit kegiatan mahasiswa yang menampung kegiatan mahasiswa di bidang rekayasa teknologi. Sejak berdiri, Riptek bias dikatakan menjadi motor kegiatan
penelitian di Unnes. Sebagian besar anggotanya pernah melakukan penelitian, sebagian besar di bidang teknologi.

Pada 13 Mei lalu Divisi Robotika Riptek bahkan pernah meraih juara 3 dalam Kontes Robot Cerdas Departemen Pengembangan Teknologi Indonesia (KRCI) tingkat regional 3. “Namun, banyak juga ide yang tidak orisinal, hanya merevisi penelitian sebelumnya.” Nah lo.

Surahmat, Ike Purwaningsih
Dimuatpada Halaman Rostrum Media Indonesia, 8 November 2009
http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/11/08/INDEX.SHTML#

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar